Oleh: Muh. Muslih
Adalah suatu kebetulan, pada tahun 2003 pesawat TV kami rusak dan tak ada niat kami untuk membetulkannya. Saat itu sulung kami baru usia 3 tahun sedang adiknya 1 tahun. Sebenarnya dari berbagai bacaan sudah lama kami mengetahui bahaya dan dampak TV bagi perkembangan anak, namun baru pada momentum kerusakan TV itulah kami sungguh-sungguh nawaitu untuk puasa dari tontonan TV.
Kesepian yang mendera
Masalah yang mula-mula muncul dari keputusan itu adalah kesepian, ada sesuatu yang hilang dari keseharian kami, utamanya tayangan informasi dan berita yang menjadi kesukaan saya. Istriku juga merasakan hal yang sama, ia kehilangan acara favoritnya “Kuis siapa berani?” dan telenovela “Maria Mercedes” saat itu. Dan yang paling sulit menerima kenyataan adalah Si Sulung yang sudah bisa memprotes hilangnya acara kartun dari kehidupannya. “Pak, kapan TV nya dibetulin, Afi ingin nonton kartun,” rengeknya setiap hari. Dengan sabar kami jelaskan padanya bahwa TV nya rusak berat, mati total dan butuh uang banyak untuk membetulkannya.
Lama-lama kami terbiasa dengan pola hidup tanpa TV. Meskipun kami memiliki uang untuk memperbaiki atau membeli TV baru kami lebih memilih puasa TV dengan pertimbangan demi perkembangan pendidikan anak-anak. Kami juga terinspirasi oleh penulis buku-buku top tentang pengasuhan anak, M. Fauzil Adzim yang mengatakan bahwa sesungguhnya banyak orang tua yang menyadari dan mengetahui bahaya tayangan TV bagi anak namun mereka tak berani berkorban untuk mematikan TV nya karena telah keranjingan acara-acaranya. Penulis buku tentang Islamic parenting itu sendiri dalam kesehariannya memilih tak memiliki TV di rumahnya. Adapun alasan terkuat bagi kami untuk puasa TV adalah fakta bahwa sebagian besar tayangan TV, terutama sinetron yang menyuguhkan tontonan yang mengumbar aurat. Sampai saat ini budaya berpakaian yang layak dan sopan sulit di dapatkan di layar kaca itu. Bahkan banyak acara yang berlabel tayangan untuk anak-anak, seperti audisi bintang-bintang cilik namun isinya lebih mencerminkan eksploitasi anak dari kacamata ambisi orang dewasa. Ini dengan mudah bisa terkuak dari cara berpakaian anak waktu tampil dan pilihan lagu-lagunya yang bukan lagu anak-anak lagi.
Untuk mengatasi kesenjangan akan kebutuhan informasi dan berita selama puasa TV kami mengandalkan radio. Alhamdulillah, dengan semakin banyaknya stasiun radio yang mengkhususkan dengan menu berita seperti radio ElShinta, radio 68-H Jakarta kebutuhan tersebut dapat diatasi. Selain itu, kami juga jadi terbiasa memantau perkembangan dunia lewat siaran radio BBC London atau Suara Amerika (VOA) sambil mengerjakan rutinitas pagi, memasak dan mencuci pakaian mulai jam 05.00 hingga jam 06.00. Sedangkan sebagai kompensasi atas hobi menonton sinetron istriku berlangganan sebuah tabloid wanita. Kegemarannya bergeser menjadi pecinta resep menu masakan serta artikel tentang psikologi dan pendidikan anak. Anak-anak pun sudah tidak banyak protes atas ketiadaan film kartun. Protes mereka sekarang adalah kalau kami tak sempat membacakan buku atau mendongeng menjelang tidur. Mereka sangat mecinta buku dan majalah bergambar meskipun mereka belum dapat membaca.
Masa cinta bacaan tumbuh
Saat usia 5 tahun, Si Sulung masuk TK kelas 0 kecil. Ia memang belum bisa membaca tetapi sangat menyukai buku-buku bergambar. Kalau dia mendekati kami sambil membawa buku atau majalah itu berarti kami harus membacakan isinya. Demikian juga adiknya, ia sering membuka-buka majalah anak-anak dan kadang-kadang merobeknya. Hal itu kami biarkan karena memang sudah kami antisipasi dengan membelikan buku atau pun majalah anak-anak dari pasar loak yang harganya sangat murah. Sebuah majalah anak-anak bekas tahun 2005 hanya senilai 1000 rupiah. Itu sudah yang termahal, seringkali kami justru dapat hanya seharga 500 rupiah. Bandingkan dengan harga barunya yang senilai 7000 ribu pereksemplarnya. Pikir kami saat itu yang penting adalah fungsinya. Kami ingin memfasilitasi anak-anak dengan kegiatan membaca. Mereka pun sudah sangat senang mendapatkan majalah dan buku-buku bergambar.
Usia 7 tahun, Sulung masuk kelas 1 SD. Meski berbagai cara telah kami tempuh agar bisa lancar membaca namun ia tetap belum mampu melakukannya. Namun kami tak khawatir atas hal itu karena ia tetap memiliki semangat membuka-buka buku bergambar dan membawanya ke kamar tidur. Adapun tugas kami tetap, membacakan isi buku yang menarik hatinya dan mendongeng sebelum tidur. Perkara mendongeng adalah tugas saya. Selain bersumber dari bacaan yang kami miliki, saya sering mengarang sendiri cerita dengan muatan pokok budi pekerti. Dan anehnya, cerita rekaan sendiri itu yang paling disukai anak-anak. Dengan tokoh-tokoh rekaan saya, mereka selalu menunggu lanjutan cerita yang terpotong setiap satu nilai budi pekerti diceritakan. Nilai-nilai seperti kejujuran, keberanian, kerajinan ternyata bisa menjadi rekaan bahan cerita yang menarik asalkan kami mau bersungguh-sungguh meladeni keingintahuan anak-anak. Memang kadang-kadang saat badan lelah, jalan ceritanya menjadi tidak mulus karena serangan kantuk yang mendera sang pendongeng. Alhasil, anak-anak sering protes karena omongan saya sering melantur dan tidak nyambung dengan cerita.
Perkembangan cukup berarti terjadi pada kelas 1 semester 2, karena ketelatenan gurunya Si Sulung mulai lancar membaca sehingga semakin sering ia minta dibelikan buku-buku baru terutama dengan tema dinosaurus yang menjadi kesukaannya. Karena terbatasnya keuangan, kami daftarkan dia dan adiknya yang masih TK di perpustakaan umum di tempat kami. Hanya bermodalkan pendaftaran 1500 rupiah perorang mereka sudah bisa menikmati fasilitas pinjam buku sebanyak 2 buah perorang selama maksimal 1 minggu. Alhamdulillah, semua kesulitan ada jalan keluarnya. Sekarang Si Sulung sudah kelas 3 dan bila ditanya tentang kegemaran maka dengan mantap ia akan menjawab, “hobi saya membaca”. Terbukti baginya tiada hari tanpa membaca, baik membaca komik, buku pelajaran ataupun majalah. Adapun perkembangan belajar adiknya lebih bagus lagi dibandingkan Si Sulung.
Memang minat baca perlu proses
Adiknya seorang perempuan yang saat umur 3,5 tahun sudah ikut kakaknya belajar di TK. Mengingat usia sebenarnya kami hanya mau titip dulu di TK sebagai anak bawang tetapi ia protes harus berseragam persis teman-temannya. Tak ingin mengecewakan kemauannya, maka kami daftarkannya sebagai seorang murid resmi walaupun terbersit sedikit cemas di hati kami, apakah tidak terlalu kecil mengingat usianya.
Akan tetapi kecemasan itu sedikit demi sedikit sirna setelah kami melihat perkembangan belajarnya. Dibandingkan dengan kakaknya, si adik ini justru lebih pesat kemampuan membacanya. Walaupun di TK belum diajarkan membaca, namun berbekal kesukaan melihat-lihat buku dan mendengar cerita orang tuanya dia sudah lancar membaca pada usia 5 tahun. Dan pada usia 5,5 tahun ia tak mau lagi duduk di bangku TK yang sudah dijalaninya salama 2 tahun sehingga kami daftarkan ia di SD terpadu, sebuah sekolah favorit di kota kami. Setelah mengikuti serangkaian seleksi dan wawancara akhirnya ia diterima di SD tersebut meskipun kepala sekolah selalu mengingatkan kami akan beberapa kemungkinan ia tak bisa mengikuti pelajaran mengingat usianya yang masih sangat muda. Terus terang kami pun sempat khawatir namun melihat semangat belajar si anak kami tak tega bila harus menghentikan langkahnya dengan memaksanya mengulang di bangku TK, maka dengan ucapan bismillah kami mantap nawaitu menyekolahkan dia di SD itu.
Sekarang di SD itu sang adik berada di bangku kelas 2 dengan predikat rangking ke 2 saat kenaikan kelas sedang kakaknya rangking 20. Dan yang mengagetkan kami, saat dia minta ijin untuk masuk pesantren di dekat SD tersebut sambil bersekolah. Tentu saja itu sama sekali bukan skenario kami dalam mendidik anak. Namun kami yakin itu tentu petunjuk Alloh maka dengan rasa penuh haru bercampur bangga kami hantarkan si kecil ke pondok dengan doa,” Ya Alloh, kami titipkan anak ini dalam pemeliharaan dan pengawasanMU”. Sambil belajar di pesantren dia selalu minta dikirimi buku=buku bacaan. Kepada anak-anak itu kami tak pernah menargetkan mereka harus rangking atas, yang kami lakukan adalah selalu menjaga semangat membaca. Oleh karenanya meskipun sang kakak berada di rangking 20 dari 31 anak, kami tak pernah khawatir asal ia masih punya semangat membaca yang tinggi.
Mungkin kalau kami tidak puasa TV ceritanya akan lain. Bisa jadi anak-anak akan sulit memiliki kebiasaan membaca yang menjadi fondasi bagi semua kebutuhan belajar anak. Saat ini, bila sebagian besar orang tua kesulitan menumbuhkan minat baca anaknya, keadaan kami justru sebaliknya. Kami kesulitan menghentikan kegiatan membaca anak-anak yang hampir tak mengenal waktu dan tempat. Maka dengan penuh kesabaran kami senantiasa mengingatkan mereka untuk selalu mengatur waktunya dengan efektif.
Tentu saja pengalaman kami ini sangat subyektif dan belum tentu dapat diterapkan pada orang lain, namun pada umumnya orang tua tentunya sudah mengetahui dampak TV bagi perkembangan jiwa anak-anaknya. Yang jelas pengalaman puasa TV selama 6 tahun bagi kami memiliki arti yang sangat besar dalam membentuk minat baca dan semangat belajar anak-anak. Dengan tidak menonton TV, anak-anak terbiasa tidur sesuai jadwal sehingga saat bangun pagi dalam keadaan segar. Selain itu, waktu belajar menjadi efektif tanpa terpecah konsentrasi karena ingin menonton TV. Meskipun kami sudah mempunyai TV baru sejak tahun 2007, namun alat itu hanya berfungsi untuk memutar film-film VCD keajaiban binatang Harun Yahya, atau film anak-anak yang memutarnya tidak setiap hari. Biasanya dua atau tiga kali diputarkan mereka sudah bosan. Untuk itu kami juga berlangganan koran untuk mengimbangi kebutuhan informasi.
Sampai kapan kami akan berpuasa TV? Kami berpendapat sampai anak-anak sudah bisa memilih acara-acara TV yang layak ditonton. Mungkin saat anak-anak telah usia SMP nanti. Untuk itu diperlukan usaha yang sungguh-sungguh agar mereka memiliki fondasi agama dan semangat belajar yang cukup matang dulu. Semoga kita menjadi orang tua yang benar-benar menjadi teladan yang baik dalam menyiapkan anak-anak menghadapi masa depan mereka. Amin.
No. HP : 081804030020
Catatan seorang guru yang sangat mencintai dunia anak, buku dan bacaan. Menyemangati orang agar suka membaca.
Minat
Reading to Learn, Learning to Read
Senin, 08 Maret 2010
Selasa, 16 Februari 2010
AJARILAH BALITA ANDA MEMBACA
Oleh : Muh.Muslih
Masa Balita = Masa Belajar Paling Hebat
Tak bisa dipungkiri bahwa usia balita, tepatnya masa antara usia dua belas bulan hingga empat tahun merupakan masa ingin tahu anak yang terbesar. Orang Jawa mengatakan dengan masa remusuh. Orang dewasa sering salah mengartikan rasa ingin tahu yang luar bisaa ini dengan menganggap anak-anak ini tidak mempunyai kemampuan untuk berkonsentrasi. Mereka tidak tahu maksud dari tindakan-tindakan yang dilakukan anaknya seperti memecahkan vas bunga, mencoba menggapai lampu pijar, mendekati kompor yang sedang menyala dll. Sesungguhnya anak-anak itu sedang belajar. Pada masa ini menurut para ahli psikologi dan syaraf pertumbuhan sel-sel otak telah mendekati sempurna. Karena pada fase bayi dilahirkan sel-sel otak ( neuron ) telah mencapai 25 % dari otak orang dewasa yang mengandung 100 miliar sel otak. Pada saat anak berusia 3 tahun ke atas tinggal fase pembesaran dan pematangan neuron. Dalam usia 5 tahun pertumbuhan otaknya sudah 80 % sempurna dan pada usia 8 tahun ke atas pertumbuhannya sudah dapat dikatakan sempurna.
Seorang anak kecil, memiliki keinginan yang besar untuk belajar. Menurut Glenn Doman, seorang tokoh Pengembangan Kemampuan Manusia yang telah berpuluh tahun melakukan penelitian terhadap anak-anak di lebih 100 negara , banyak orang sering menyamakan dua buah kata yang sangat berbeda artinya. Kata-kata itu adalah belajar dan mendidik. Menurutnya , belajar biasanya dihubungkan dengan proses yang terjadi pada seseorang yang sedang mendapatkan ilmu, sedangkan mendidik adalah proses belajar yang dituntun oleh seorang guru atau sekolah. Karena hal itulah orang kadang merasa bahwa pendidikan formal dimulai pada usia enam tahun, proses belajar yang lebih penting lainnya pun mulai pada usia enam tahun. ( Glenn Domman, Mengajar Bayi Anda Membaca, Gaya Favorit Press, Jakarta 1987 )
Itu merupakan salah besar. Yang benar adalah bahwa seorang anak mulai belajar segera sesudah ia dilahirkan. Baik kognitif, afektif maupun psikomotorik anak berkembang paling cepat saat usia balita. Anak belajar berjalan pada masa ini. Mereka juga belajar mengenal perasaan orang-orang di sekitarnya pada usia ini, sekaligus mereka belajar mendengar dan bicara pada masa ini. Pada saat ia berusia enam atau tujuh tahun dan mulai bersekolah, dia telah menyerap informasi dalam jumlah yang luar biasa besarnya, mungkin lebih banyak daripada yang akan dipelajarinya selama sisa hidupnya.
Ketika anak berusia enam tahun , ia telah mempelajari hampir semua fakta dasar mengenai dirinya dan keluarganya. Ia telah belajar mengenal tetangga dan hubungannya dengan dirinya, serta lingkungan sekitarnya dan fakta-fakta dasar lainnya. Hal ini dilakukan sebelum ia melihat sebuah ruangan kelas. Namun sayang sekali banyak orang yang meremehkan kemampuan belajar anak kecil, meskipun pengalaman telah membuktikan bahwa kita dapat berjalan, berbicara pada umumnya terjadi pada usia balita. Orang tua justru lebih suka mengekang dan mengalihkan perhatiannya pada hal-hal yang kita anggap lebih baik. Kita bahkan lebih sering menghalangi proses belajar anak pada usia ini dengan berbagai dalih, seperti ; agar tetap bersih , aman dll. Berbagai metode telah dipergunakan untuk mengatasi rasa ingin tahu ( curiosity ) yang sangat besar pada anak. Namun justru hampir semua metode tersebut menghambat proses belajar anak.
Hal yang paling lazim adalah dengan memberikannya suatu benda atau mainan yang awet ( tak mudah pecah ), bisa berupa kerincingan, mobil-mobilan, boneka dll. yang bagus warnanya. Reaksi sesaat ia akan segera melihatnya dengan gembira, memukul-mukulkan benda itu untuk mengetahui apakah bisa berbunyi, merabanya dan mengecapnya. Proses ini hanya memakan waktu kira-kira 90 detik. Setelah semua yang ingin diketahuinya tentang mainan itu sudah terpenuhi, anak itu segera meninggalakan mainan itu dan memperhatikan hal lain, semisal kotak pembungkusnya.
Kotak pembungkus mainan juga menjadi hal yang menarik baginya karena ia akan mempelajari segala sesuatu mengenai kertas itu. Bahkan kadang kotak pembungkus mainan lebih menarik daripada mainannya sendiri sebab ia bisa mengoyakkan kertas itu , sehingga ia bisa tahu bagaimana kertas itu dibuat. Setelah bosan anak akan segera beralih ke benda-benda yang lain. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa perhatian anaak tergantung pada banyaknya barang yang diberikan kepadanya untuk dipelajari dan bukan seperti yang diduga bahwa seorang anak tidak mampu memperhatikan lama-lama.
Metode pengalihan perhatian yang menghambat rasa ingin tahu anak berikutnya adalah dengan “ mengembalikan dia ke dalam kerangkeng ( boks ) “. Sesungguhnya kalau mau jujur kita bisa bertanya manfaat boks itu untuk siapa ? Untuk anak ataukah untuk orang tuanya ? Hanya sedikit orang tua yang menyadari betapa merugikannya sebuah boks. Boks menghambat perkembangan penglihatan anak, ketangkasan tangan dan kakiknya, koordinasi tangan dan mata serta berbagai macam kemampuan yang lain.
Maka jangan menghambat anak untuk belajar pada periode kehidupannya ketika keinginan untuk belajar sedang berada pada puncaknya. Otak manusia itu semakin banyak diisi , semakin banyak pula yang dapat ditampung. Antara usia 9 bulan dan 4 tahun kemampuan untuk menyerap informasi tidak ada bandingannya dan keinginan untuk belajar ini adalah yang paling besar selama hidupnya . Namun justru pada periode ini kebanyakan kita menjaga supaya anak tetap bersih, cukup makan. Aman dari dunia sekitarnya , tapi kosong dari proses belajar. Belajar adalah permainan yang paling hebat dalam kehidupan ini dan paling menyenangkan.
Ajarilah Mereka Membaca !
Selain belajar yang secara “alami” dilakukan anak kecil seperti, belajar berjalan dan berbicara sudah seharusnya orang tua menuntun anak untuk belajar membaca pada masa ini. Mengapa ?
Sering kita jumpai ada anak tamatan SD/MI yang belum lancar membaca. Padahal anak yang tak mampu membaca adalah masalah paling besar dalam dunia pendidikan. Bagaimana hal ini terjadi ? Mungkin orang tuanya terlalu mempercayakan keberhasilan belajar anaknya pada sekolah, sementara anak itu sudah berusia 6 atau 7 tahun dan belum dipersiapkan untuk belajar membaca. Dan Pak guru harus menghadapi banyak anak , maka bisa ditebak anak tersebut selain berada pada usia yang lebih sukar untuk belajar membaca juga tidak mendapat perhatian yang cukup dari guru. Ia pun menjadi tertinggal dibandingkan dengan temannya yang lain. Karena unsur “kasihan” anak ini tak mungkin akan tinggal kelas terus. Dan terjadilah pengrusakan diri pada anak ini, karena sistem kelulusan yang bisa dibuat longgar, maka ia tetap dapat lulus, meski kurang lancar membaca.
Membaca merupakan fungsi otak yang paling penting bagi manusia. Ada enam fungsi syaraf ekslusif bagi manusia dan keenam fungsi inilah yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk yang lain. Keenam fungsi otak ini sudah ada pada diri manusia dan dapat berfungsi sepenuhnya pada usia 8 tahun. Kemampuan tersebut adalah :
1. Hanya manusia yang dapat berjalan tegak.
2. Hanya manusia yang berbicara dalam bahasa ciptaan yang abstrak dan simbolis.
3. Hanya manusia yang dapat mengkombinasikan ketrampilan yang unik itu dengan kemampuan motoris di atas untuk menuliskannya.
Ketiga kemampuan yang pertama ini bersifat motoris ( ekspresif ) dan hanya dapat dilakukan jika ditunjang oleh ketiga kemampuan lainnya yang bersifat sensoris ( reseptif ).
4. Hanya manusia yang dapat mengerti bahasa abstrak dan simbolis yang didengarnya.
5. Hanya manusia yang dapat mengerti suatu benda dengan menyentuhnya saja.
6. Hanya manusia yang dapat menemukan cara untuk memungkinkannya membaca bahasa abstrak dalam bentuk tulisan.
Seorang anak 8 tahun dapat melakukan semua fungsi ini karena ia sudah dapat berjalan, berbicara, menulis, membaca, mengerti bahasa lisan dan mengenal benda-benda dengan menyentuhnya pada usia itu. Mulai itu manusia hanya mengulang-ulang saja keenam kemampuan ini, tanpa menambah kemampuan baru lagi.
Inilah pentingnya membaca sejak dini. Karena ia merupakan fungsi otak, maka semakin dini diperkenalkan akan semakin cepat ia kuasai dan sebaliknya bila kita terlambat belajar membaca, maka akan semakin sulit ia memahaminya. Dan banyak sekali bukti yang membenarkan hal ini. Dari pelajaran sejarah, misalnya kita mengenal seorang tokoh kedokteran IBNU SINA atau lebih dikenal AVICENNA oleh orang Barat. Ia pada usia 10 tahun selain telah tamat membaca Al Qur’an juga telah dapat menghafalkan 30 juz Al Qur’an. Atau kita bisa melihat seorang Ir. Kun Ariwibowo yang berhasil lulus sebagai sarjana teknik elektro, Fakultas Tehnik Universitas Trisakti dalam usia 18 tahun 8 bulan. Menurut keterangannya ia sudah dapat membaca buku pada usia 4 tahun berkat ketekunan ibu- bapaknya mengajar. Kun Ariwibowo berhasil menyelesaikan pendidikan di SD hanya selama 3 tahun, di SMP 2 tahun dan SMA 2 tahun. Dia mengatakan bahwa pada usia 4 tahun , dia bukan hanya telah dapat membaca, tetapi juga sangat gemar membaca. ( H. Syahrah Obos & H. Syahidin,B.A ed, Melahirkan Anak Berkualitas, Ramadhani , Solo, 1996 ). Hampir semua orang besar dan terkenal di dunia dapat dipastikan bahwa mereka sangat gemar membaca buku semisal : Mahatma Gandhi, Soekarno, Kennedy dll.
Oleh karena itu penulis mengajak pada orang tua agar tidak begitu saja mempercayakan keberhasilan belajar pada sekolah atau pendidikan formal yang ada. Sebab kitalah yang seharusnya lebih tahu keadaan anak-anak kita. Dan setiap anak memiliki kekhasan masing-masing. Anak kita adalah tanggung jawab kita sendiri, bukan tanggung jawab orang lain. Maka ajarilah mereka membaca sejak dini, jangan menunggu terjadinya kesulitan yang akan dihadapinya. Penulis ingin mengutip kesimpulan Glenn Doman tentang hasil penelitian kepustakaan yang beliau lakukan mengenai empat hal :
1. Sejarah mengajarkan anak-anak usia dini bukanlah penemuan baru, tetapi sudah berlangsung selama berabad-abad.
2. Seringkali orang-orang dari generasi yang berbeda melakukan hal yang sama meskipun dengan alasan dan dasar pemikiran yang berbeda.
3. Mereka yang memutuskan untuk mengajarkan anak-anak kecil membaca menggunakan sistem yang walaupun berbeda dalam teknik tapi banyak mempunyai persamaan faktor.
4. Yang paling penting, dalam kasus yang kami temukan mengenai anak kecil yang diajarkan membaca di rumah, siapapun yang mencobanya pasti berhasil , tidak peduli metode apa yang dipakainya. ( Glenn Doman, hal 69 )
Mari kita jadikan anak-anak kita untuk dapat belajar membaca sejak dini dan mencintai buku sejak usia dini. Gemar membaca adalah modal utama untuk menjadi bangsa yang berkualitas. Jangan percayakan sepenuhnya pada sekolah keberhasilan belajar anak kita. Bekalilah mereka dengan persiapan belajar membaca sejak dini. Semoga kita menjadi bangsa yang maju.
Oleh : Muh.Muslih
Masa Balita = Masa Belajar Paling Hebat
Tak bisa dipungkiri bahwa usia balita, tepatnya masa antara usia dua belas bulan hingga empat tahun merupakan masa ingin tahu anak yang terbesar. Orang Jawa mengatakan dengan masa remusuh. Orang dewasa sering salah mengartikan rasa ingin tahu yang luar bisaa ini dengan menganggap anak-anak ini tidak mempunyai kemampuan untuk berkonsentrasi. Mereka tidak tahu maksud dari tindakan-tindakan yang dilakukan anaknya seperti memecahkan vas bunga, mencoba menggapai lampu pijar, mendekati kompor yang sedang menyala dll. Sesungguhnya anak-anak itu sedang belajar. Pada masa ini menurut para ahli psikologi dan syaraf pertumbuhan sel-sel otak telah mendekati sempurna. Karena pada fase bayi dilahirkan sel-sel otak ( neuron ) telah mencapai 25 % dari otak orang dewasa yang mengandung 100 miliar sel otak. Pada saat anak berusia 3 tahun ke atas tinggal fase pembesaran dan pematangan neuron. Dalam usia 5 tahun pertumbuhan otaknya sudah 80 % sempurna dan pada usia 8 tahun ke atas pertumbuhannya sudah dapat dikatakan sempurna.
Seorang anak kecil, memiliki keinginan yang besar untuk belajar. Menurut Glenn Doman, seorang tokoh Pengembangan Kemampuan Manusia yang telah berpuluh tahun melakukan penelitian terhadap anak-anak di lebih 100 negara , banyak orang sering menyamakan dua buah kata yang sangat berbeda artinya. Kata-kata itu adalah belajar dan mendidik. Menurutnya , belajar biasanya dihubungkan dengan proses yang terjadi pada seseorang yang sedang mendapatkan ilmu, sedangkan mendidik adalah proses belajar yang dituntun oleh seorang guru atau sekolah. Karena hal itulah orang kadang merasa bahwa pendidikan formal dimulai pada usia enam tahun, proses belajar yang lebih penting lainnya pun mulai pada usia enam tahun. ( Glenn Domman, Mengajar Bayi Anda Membaca, Gaya Favorit Press, Jakarta 1987 )
Itu merupakan salah besar. Yang benar adalah bahwa seorang anak mulai belajar segera sesudah ia dilahirkan. Baik kognitif, afektif maupun psikomotorik anak berkembang paling cepat saat usia balita. Anak belajar berjalan pada masa ini. Mereka juga belajar mengenal perasaan orang-orang di sekitarnya pada usia ini, sekaligus mereka belajar mendengar dan bicara pada masa ini. Pada saat ia berusia enam atau tujuh tahun dan mulai bersekolah, dia telah menyerap informasi dalam jumlah yang luar biasa besarnya, mungkin lebih banyak daripada yang akan dipelajarinya selama sisa hidupnya.
Ketika anak berusia enam tahun , ia telah mempelajari hampir semua fakta dasar mengenai dirinya dan keluarganya. Ia telah belajar mengenal tetangga dan hubungannya dengan dirinya, serta lingkungan sekitarnya dan fakta-fakta dasar lainnya. Hal ini dilakukan sebelum ia melihat sebuah ruangan kelas. Namun sayang sekali banyak orang yang meremehkan kemampuan belajar anak kecil, meskipun pengalaman telah membuktikan bahwa kita dapat berjalan, berbicara pada umumnya terjadi pada usia balita. Orang tua justru lebih suka mengekang dan mengalihkan perhatiannya pada hal-hal yang kita anggap lebih baik. Kita bahkan lebih sering menghalangi proses belajar anak pada usia ini dengan berbagai dalih, seperti ; agar tetap bersih , aman dll. Berbagai metode telah dipergunakan untuk mengatasi rasa ingin tahu ( curiosity ) yang sangat besar pada anak. Namun justru hampir semua metode tersebut menghambat proses belajar anak.
Hal yang paling lazim adalah dengan memberikannya suatu benda atau mainan yang awet ( tak mudah pecah ), bisa berupa kerincingan, mobil-mobilan, boneka dll. yang bagus warnanya. Reaksi sesaat ia akan segera melihatnya dengan gembira, memukul-mukulkan benda itu untuk mengetahui apakah bisa berbunyi, merabanya dan mengecapnya. Proses ini hanya memakan waktu kira-kira 90 detik. Setelah semua yang ingin diketahuinya tentang mainan itu sudah terpenuhi, anak itu segera meninggalakan mainan itu dan memperhatikan hal lain, semisal kotak pembungkusnya.
Kotak pembungkus mainan juga menjadi hal yang menarik baginya karena ia akan mempelajari segala sesuatu mengenai kertas itu. Bahkan kadang kotak pembungkus mainan lebih menarik daripada mainannya sendiri sebab ia bisa mengoyakkan kertas itu , sehingga ia bisa tahu bagaimana kertas itu dibuat. Setelah bosan anak akan segera beralih ke benda-benda yang lain. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa perhatian anaak tergantung pada banyaknya barang yang diberikan kepadanya untuk dipelajari dan bukan seperti yang diduga bahwa seorang anak tidak mampu memperhatikan lama-lama.
Metode pengalihan perhatian yang menghambat rasa ingin tahu anak berikutnya adalah dengan “ mengembalikan dia ke dalam kerangkeng ( boks ) “. Sesungguhnya kalau mau jujur kita bisa bertanya manfaat boks itu untuk siapa ? Untuk anak ataukah untuk orang tuanya ? Hanya sedikit orang tua yang menyadari betapa merugikannya sebuah boks. Boks menghambat perkembangan penglihatan anak, ketangkasan tangan dan kakiknya, koordinasi tangan dan mata serta berbagai macam kemampuan yang lain.
Maka jangan menghambat anak untuk belajar pada periode kehidupannya ketika keinginan untuk belajar sedang berada pada puncaknya. Otak manusia itu semakin banyak diisi , semakin banyak pula yang dapat ditampung. Antara usia 9 bulan dan 4 tahun kemampuan untuk menyerap informasi tidak ada bandingannya dan keinginan untuk belajar ini adalah yang paling besar selama hidupnya . Namun justru pada periode ini kebanyakan kita menjaga supaya anak tetap bersih, cukup makan. Aman dari dunia sekitarnya , tapi kosong dari proses belajar. Belajar adalah permainan yang paling hebat dalam kehidupan ini dan paling menyenangkan.
Ajarilah Mereka Membaca !
Selain belajar yang secara “alami” dilakukan anak kecil seperti, belajar berjalan dan berbicara sudah seharusnya orang tua menuntun anak untuk belajar membaca pada masa ini. Mengapa ?
Sering kita jumpai ada anak tamatan SD/MI yang belum lancar membaca. Padahal anak yang tak mampu membaca adalah masalah paling besar dalam dunia pendidikan. Bagaimana hal ini terjadi ? Mungkin orang tuanya terlalu mempercayakan keberhasilan belajar anaknya pada sekolah, sementara anak itu sudah berusia 6 atau 7 tahun dan belum dipersiapkan untuk belajar membaca. Dan Pak guru harus menghadapi banyak anak , maka bisa ditebak anak tersebut selain berada pada usia yang lebih sukar untuk belajar membaca juga tidak mendapat perhatian yang cukup dari guru. Ia pun menjadi tertinggal dibandingkan dengan temannya yang lain. Karena unsur “kasihan” anak ini tak mungkin akan tinggal kelas terus. Dan terjadilah pengrusakan diri pada anak ini, karena sistem kelulusan yang bisa dibuat longgar, maka ia tetap dapat lulus, meski kurang lancar membaca.
Membaca merupakan fungsi otak yang paling penting bagi manusia. Ada enam fungsi syaraf ekslusif bagi manusia dan keenam fungsi inilah yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk yang lain. Keenam fungsi otak ini sudah ada pada diri manusia dan dapat berfungsi sepenuhnya pada usia 8 tahun. Kemampuan tersebut adalah :
1. Hanya manusia yang dapat berjalan tegak.
2. Hanya manusia yang berbicara dalam bahasa ciptaan yang abstrak dan simbolis.
3. Hanya manusia yang dapat mengkombinasikan ketrampilan yang unik itu dengan kemampuan motoris di atas untuk menuliskannya.
Ketiga kemampuan yang pertama ini bersifat motoris ( ekspresif ) dan hanya dapat dilakukan jika ditunjang oleh ketiga kemampuan lainnya yang bersifat sensoris ( reseptif ).
4. Hanya manusia yang dapat mengerti bahasa abstrak dan simbolis yang didengarnya.
5. Hanya manusia yang dapat mengerti suatu benda dengan menyentuhnya saja.
6. Hanya manusia yang dapat menemukan cara untuk memungkinkannya membaca bahasa abstrak dalam bentuk tulisan.
Seorang anak 8 tahun dapat melakukan semua fungsi ini karena ia sudah dapat berjalan, berbicara, menulis, membaca, mengerti bahasa lisan dan mengenal benda-benda dengan menyentuhnya pada usia itu. Mulai itu manusia hanya mengulang-ulang saja keenam kemampuan ini, tanpa menambah kemampuan baru lagi.
Inilah pentingnya membaca sejak dini. Karena ia merupakan fungsi otak, maka semakin dini diperkenalkan akan semakin cepat ia kuasai dan sebaliknya bila kita terlambat belajar membaca, maka akan semakin sulit ia memahaminya. Dan banyak sekali bukti yang membenarkan hal ini. Dari pelajaran sejarah, misalnya kita mengenal seorang tokoh kedokteran IBNU SINA atau lebih dikenal AVICENNA oleh orang Barat. Ia pada usia 10 tahun selain telah tamat membaca Al Qur’an juga telah dapat menghafalkan 30 juz Al Qur’an. Atau kita bisa melihat seorang Ir. Kun Ariwibowo yang berhasil lulus sebagai sarjana teknik elektro, Fakultas Tehnik Universitas Trisakti dalam usia 18 tahun 8 bulan. Menurut keterangannya ia sudah dapat membaca buku pada usia 4 tahun berkat ketekunan ibu- bapaknya mengajar. Kun Ariwibowo berhasil menyelesaikan pendidikan di SD hanya selama 3 tahun, di SMP 2 tahun dan SMA 2 tahun. Dia mengatakan bahwa pada usia 4 tahun , dia bukan hanya telah dapat membaca, tetapi juga sangat gemar membaca. ( H. Syahrah Obos & H. Syahidin,B.A ed, Melahirkan Anak Berkualitas, Ramadhani , Solo, 1996 ). Hampir semua orang besar dan terkenal di dunia dapat dipastikan bahwa mereka sangat gemar membaca buku semisal : Mahatma Gandhi, Soekarno, Kennedy dll.
Oleh karena itu penulis mengajak pada orang tua agar tidak begitu saja mempercayakan keberhasilan belajar pada sekolah atau pendidikan formal yang ada. Sebab kitalah yang seharusnya lebih tahu keadaan anak-anak kita. Dan setiap anak memiliki kekhasan masing-masing. Anak kita adalah tanggung jawab kita sendiri, bukan tanggung jawab orang lain. Maka ajarilah mereka membaca sejak dini, jangan menunggu terjadinya kesulitan yang akan dihadapinya. Penulis ingin mengutip kesimpulan Glenn Doman tentang hasil penelitian kepustakaan yang beliau lakukan mengenai empat hal :
1. Sejarah mengajarkan anak-anak usia dini bukanlah penemuan baru, tetapi sudah berlangsung selama berabad-abad.
2. Seringkali orang-orang dari generasi yang berbeda melakukan hal yang sama meskipun dengan alasan dan dasar pemikiran yang berbeda.
3. Mereka yang memutuskan untuk mengajarkan anak-anak kecil membaca menggunakan sistem yang walaupun berbeda dalam teknik tapi banyak mempunyai persamaan faktor.
4. Yang paling penting, dalam kasus yang kami temukan mengenai anak kecil yang diajarkan membaca di rumah, siapapun yang mencobanya pasti berhasil , tidak peduli metode apa yang dipakainya. ( Glenn Doman, hal 69 )
Mari kita jadikan anak-anak kita untuk dapat belajar membaca sejak dini dan mencintai buku sejak usia dini. Gemar membaca adalah modal utama untuk menjadi bangsa yang berkualitas. Jangan percayakan sepenuhnya pada sekolah keberhasilan belajar anak kita. Bekalilah mereka dengan persiapan belajar membaca sejak dini. Semoga kita menjadi bangsa yang maju.
Rabu, 03 Februari 2010
Awas Bahaya LKS bagi Siswa SD
AWAS BAHAYA LKS BAGI SISWA SD!
Oleh: Muh.Muslih
Adalah sebuah kisah nyata, Afi, seorang anak kelas II SD, tiba-tiba menangis keras-keras ketika ayahnya meminta mengerjakan PR. Sambil sesenggukan ia mengatakan bahwa PRnya sangat banyak hari itu. Dengan heran bercampur dongkol ayah itu menanyai anaknya, berapa PR yang harus ia kerjakan hari ini? Katanya ,sehari itu ibu guru memberinya tiga PR untuk mata pelajaran yang berbeda. Tak puas dengan jawaban itu, sang ayah mulai membuka PR anaknya. Ternyata semua PR bersumber pada tiga buku LKS (lembar kerja siswa)terbitan sebuah perusahaan swasta yang diberikan sang guru pada awal semester. ‘Pantas saja, anak itu menangis,’ pikir sang ayah ketika melihat PR setiap mata pelajaran yang terdiri dari minimal empat bagian (A,B,C,dan D) dengan jumlah soal tiap bagian 5 - 10 soal. Jadi kalau dijumlah soal untuk ketiga PR itu ada 60 soal. ‘Wah, ini bukan lagi bertujuan agar anak jadi rajin belajar namun justru menyiksa dan membebani anak,’pikir sang ayah.
Peran Pekerjaan Rumah bagi Siswa
Sebenarnya, apa yang salah dengan PR? Menurut para ahli pendidikan, PR (pekerjaan rumah) berfungsi untuk melatih dan mereview kemampuan siswa secara mandiri di rumah setelah mendapat proses pembelajaran di sekolah . Selain itu, PR juga memiliki tujuan agar siswa rajin belajar di rumah, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak siswa merasa tak perlu membuka pelajaran bila tak ada PR dari guru. Oleh karena itu, agar berjalan efektif biasanya jumlah soal untuk PR hanya sedikit. Jadi PR sesungguhnya baik apabila dilakukan dan dipersiapkan dengan cermat oleh guru. Dari kasus di atas kemungkinan masalahnya adalah guru tidak merencanakan tugas PR dengan baik. Selain membebani siswa dengan jumlah PR yang terlalu banyak, ia juga asal-asalan memberikan tugas PRnya dengan mengambil sumber dari LKS sehingga memberi kesan bahwa sang guru malas mempersiapkan tugasnya.
Menurut Piaget dalam buku The Language and the Tought of the Child pada dasarnya setiap anak merupakan pembelajar aktif. Ia mendapatkan pengetahuan lewat lingkungannya, baik secara fisik maupun penjelasan orang lain. Piaget membagi perkembangan cara berpikir anak menjadi empat tahap: tahap sensor-motorik (dari lahir – 2 tahun), tahap pra-operasional (usia 2 – 7 tahun), tahap operasional kongkrit (usia 7 – 11 tahun), dan tahap operasional formal (usia 11 tahun ke atas).
Anak usia SD, kira-kira mulai 7 – 12 tahun, dalam Teori Piaget termasuk tahap operasional kongkrit (concrete operational stage) artinya mulai usia 7 tahun anak mampu berpikir logis seperti cara berpikir orang dewasa. Kemampuan penerapan logika dalam beberapa pengetahuan, seperti matematika, sains, atau membaca berkembang dalam waktu yang sama. Tetapi, Piaget mengingatkan bahwa kemampuan tersebut dibatasi oleh pengalaman mereka yang masih minim. Oleh karenanya anak usia SD sangat memerlukan bantuan guru untuk memahami konsep-konsep yang dimiliki anak menjadi utuh.
LKS bagi Anak SD
Dalam kasus PR di atas, penulis memandang bahwa penggunaan LKS sebagai media pembelajaran pada usia SD sangat berbahaya bagi perkembangan berpikir anak. Mengapa? Pertama, LKS hanya melatih siswa menjawab soal; ia tidak akan efektif tanpa adanya pemahaman konsep materi secara benar. Pemaparan konsep kita dapatkan dari buku teks. Untuk itu sudah sangat tepat bila pemerintah mengatur standar mutu buku teks lewat Pusat Perbukuan Depdiknas. Hal ini berarti buku yang telah lolos dari lembaga tersebut sudah layak digunakan di sekolah. Apalagi dengan adanya program buku elektonik dari pemerintah, saat ini sangatlah mudah untuk mendapatkan buku teks bermutu. Tugas guru adalah membantu siswa memahami konsep dalam buku-buku tersebut secara menyeluruh sebagaimana Teori Piaget di atas. Untuk mengecek pemahaman dan kemampuan siswa guru dapat memberi latihan atau PR berdasarkan apa yang telah dipelajari. Pemakaian LKS buatan pihak lain bisa menimbulkan ketidak sesuaian (mis-match) antara yang diterangkan dan yang dilatihkan. Hal ini sangat mungkin, karena ibarat makanan, bahan makanan yang sama bisa jadi lain hasilnya bila dimasak oleh koki yang berbeda. Maka paling ideal, LKS yang baik adalah buatan guru itu sendiri karena dia lah yang semestinya tahu persis akan kebutuhan siswanya.
Kedua, hal yang paling penulis khawatirkan adalah penggunaan LKS sebagai pengganti buku ajar. Dengan beberapa pertimbangan pragmatis berupa: praktis, tak repot, harga yang murah, bahkan adanya diskon yang cukup menggiurkan ,dll. ada beberapa guru yang lebih mengutamakan penggunaan LKS dalam pembelajaran di kelas ketimbang pemakaian buku teks. Nampaknya belum ada penelitian tentang dominasi LKS menggeser keberadaan buku teks atau buku ajar. Namun sangat masuk akal untuk mempertanyakan apa yang sesungguhnya terjadi di dalam kelas atas penggunaan LKS dan buku ajar karena sudah menjadi semacam ‘ritual’ bahwa setiap pergantian semester ada pembagian (baca: penjualan) buku LKS oleh pihak guru dan sekolah . Memang dari pengamatan penulis terhadap beberapa LKS terbitan swasta pada umumnya sudah mencakup rangkuman materi, contoh-contoh penerapan konsep, dan latihan. Akan tetapi karena LKS memang dirancang sebagai latihan, maka penggunaan LKS sebahai bahan pembelajaran di kelas sama sekali tidak benar.
Pembelajaran pada jenjang sekolah dasar (SD) sangat menentukan keberhasilan di jenjang berikutnya. Pembentukan konsep yang tak mapan pada usia ini akan menjadi sandungan besar pada perkembangan masa berikutnya. Tentu kita tak ingin anak-anak kita mahir menjawab soal pilihan ganda, karena sudah dilatih lewat LKS namun gagal menjelaskan dan mengaplikasikan konsep dalam kondisi kehidupan yang nyata. Kalau itu terjadi anak akan sangat bergantung pada latihan-latihan soal tanpa pernah mampu berpikir untuk berusaha membuat soal sendiri lalu memecahkannya sendiri atau bersama temannya. Padahal belajar yang berhasil ditandai oleh kemampuan pembelajar untuk mau belajar mandiri tanpa arahan dan paksaan orang lain.
Alih-alih menjelaskan konsep, beberapa LKS justru hanya mencantumkan rumus-rumus dalam pelajaran matematika, misalnya. Hal ini karena yang menjadi pertimbangan penerbit adalah nilai ekonomisnya alias keuntungan semata; semakin tebal LKS , semakin mahal dan kurang prospektif pemasarannya. Oleh karenanya buku LKS cenderung tipis dan miskin ilustrasi tetapi pada sampul depannya terpampang tulisan besar-besar, SESUAI DENGAN KTSP. Biasanya LKS buatan penerbit hanya dipakai para guru sebagai bahan latihan di rumah alias PR, dengan catatan mereka yang memakainya biasanya berdalih demi kepraktisan karena tak cukup waktu untuk menyiapkan tugas bikinan sendiri (baca: karena malas) dan kalau bisa, kata para guru itu pada sales buku LKS, tolong sekalian disertakan Promes (program semester) dan RPP (rencana program pengajaran). Ah! Ada-ada saja!
Ketiga, pertimbangan mutu soal dalam buku LKS. Dalam kasus PR di atas, sang ayah mencoba mengamati soal-soal yang ada dalam LKS tersebut. Ternyata dari bagian A hingga D soal-soalnya cenderung monoton, artinya soal-soal yang sudah ditanyakan pada bagian A bisa jadi muncul lagi di B, atau D dengan kalimat yang berbeda. Tentu saja hal ini akan membosankan bagi anak yang telah memahami konsep. Nampaknya sang penulis LKS kekurangan bahan soal, namun dikejar target harus memenuhi sekian soal agar LKS jadi sekian halaman sesuai keinginan penerbit. Oleh karenanya mutu soal kurang menjadi pertimbangan penulis LKS. Berpijak dari pengalaman di atas sudah selayaknya kita mempertanyakan mutu soal yang ada dalam LKS SD. Apakah soal-soal dalam LKS tidak bermutu? Untuk menjawab secara obyektif diperlukan sejumlah penelitian, namun secara kasat mata seorang guru yang kompeten akan mampu menilai kadar mutu soal-soal yang ada dalam LKS sehingga ia bisa memutuskan apakah akan menggunakan sebuah LKS atau tidak. Memang untuk LKS SMP dan SMA , kebanyakan soal – soalnya mirip atau sekedar mencuplik (copy paste) dari soal-soal UN yang tentu sudah melalui penyaringan ketat dari pemerintah. Namun kita patut mempertanyakan keaslian (orisinalitas) ide pembuat LKS tersebut, kalau sekedar copy paste semua orang juga bisa, kan? Terus dimana fungsi pengayaan soal dari sebuah LKS?
Alangkah baiknya buku LKS buatan penerbit juga bermula dari pembuatan kisi-kisi soal yang benar lalu dilakukan testing dan analisa butir soal secara benar. Nah, berdasarkan analisa tersebut akan diketahui apakah rangkaian soal-soal tersebut memiliki ketepatan (validity) dan keajegan (realibility) yang cukup. Lewat analisa tersebut Juga akan diketahui tingkat kesukaran (TK) dan daya pembeda (DP) masing-masing soal sehingga memudahkan pembuat soal untuk menentukan butir soal mana yang bisa dipakai dan mana yang harus disingkirkan. Memang untuk menuju kualitas harus menempuh jalan yang berliku, namun dengan garansi kualitas itulah seharusnya para pembuat buku LKS bersaing menawarkan dagangannya.
LKS SD Bisa Mematikan Potensi Anak
Penulis tidak apriori akan keberadaan buku LKS, terutama bila memang memenuhi kualitas standar. Namun penggunaan yang tidak tepat terhadap LKS akan mematikan kemampuan anak sebagai pembelajar aktif dan menjadikan LKS sebagai beban yang menyiksa anak, maka sekali lagi penulis menegaskan bahwa pada usia SD lebih membutuhkan pemahaman konsep secara utuh, dan untuk mengecek kemampuan siswa, guru tidak perlu menggunakan LKS buatan penerbit. Lebih baik para guru memaksimalkan penggunaan buku ajar untuk pemahaman siswanya. Buatlah LKS sendiri yang lebih membumi dan sesuai dengan kebutuhan anak didiknya. Tentu untuk jumlah soal guru yang paling mampu memperkirakan ketuntasan belajar dari masing-masing bab. Tidak harus banyak yang penting tuntas pemahaman materinya. Semoga dengan pencangan sertifikasi guru akan menambah semangat para guru untuk menunjukkan profesionalisme mereka. Selamat mencoba!
Tentang penulis:
Muh.Muslih, peneliti pada MAARIF CENTER, Alumnus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Alamat : Kompleks kampus SMP Terpadu Ma’arif Muntilan, Bintaro, Gunungpring, Muntilan, 56415
Email : muslih_upi@yahoo.com atau afiborobudur_mgl@yahoo.co.id
Oleh: Muh.Muslih
Adalah sebuah kisah nyata, Afi, seorang anak kelas II SD, tiba-tiba menangis keras-keras ketika ayahnya meminta mengerjakan PR. Sambil sesenggukan ia mengatakan bahwa PRnya sangat banyak hari itu. Dengan heran bercampur dongkol ayah itu menanyai anaknya, berapa PR yang harus ia kerjakan hari ini? Katanya ,sehari itu ibu guru memberinya tiga PR untuk mata pelajaran yang berbeda. Tak puas dengan jawaban itu, sang ayah mulai membuka PR anaknya. Ternyata semua PR bersumber pada tiga buku LKS (lembar kerja siswa)terbitan sebuah perusahaan swasta yang diberikan sang guru pada awal semester. ‘Pantas saja, anak itu menangis,’ pikir sang ayah ketika melihat PR setiap mata pelajaran yang terdiri dari minimal empat bagian (A,B,C,dan D) dengan jumlah soal tiap bagian 5 - 10 soal. Jadi kalau dijumlah soal untuk ketiga PR itu ada 60 soal. ‘Wah, ini bukan lagi bertujuan agar anak jadi rajin belajar namun justru menyiksa dan membebani anak,’pikir sang ayah.
Peran Pekerjaan Rumah bagi Siswa
Sebenarnya, apa yang salah dengan PR? Menurut para ahli pendidikan, PR (pekerjaan rumah) berfungsi untuk melatih dan mereview kemampuan siswa secara mandiri di rumah setelah mendapat proses pembelajaran di sekolah . Selain itu, PR juga memiliki tujuan agar siswa rajin belajar di rumah, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak siswa merasa tak perlu membuka pelajaran bila tak ada PR dari guru. Oleh karena itu, agar berjalan efektif biasanya jumlah soal untuk PR hanya sedikit. Jadi PR sesungguhnya baik apabila dilakukan dan dipersiapkan dengan cermat oleh guru. Dari kasus di atas kemungkinan masalahnya adalah guru tidak merencanakan tugas PR dengan baik. Selain membebani siswa dengan jumlah PR yang terlalu banyak, ia juga asal-asalan memberikan tugas PRnya dengan mengambil sumber dari LKS sehingga memberi kesan bahwa sang guru malas mempersiapkan tugasnya.
Menurut Piaget dalam buku The Language and the Tought of the Child pada dasarnya setiap anak merupakan pembelajar aktif. Ia mendapatkan pengetahuan lewat lingkungannya, baik secara fisik maupun penjelasan orang lain. Piaget membagi perkembangan cara berpikir anak menjadi empat tahap: tahap sensor-motorik (dari lahir – 2 tahun), tahap pra-operasional (usia 2 – 7 tahun), tahap operasional kongkrit (usia 7 – 11 tahun), dan tahap operasional formal (usia 11 tahun ke atas).
Anak usia SD, kira-kira mulai 7 – 12 tahun, dalam Teori Piaget termasuk tahap operasional kongkrit (concrete operational stage) artinya mulai usia 7 tahun anak mampu berpikir logis seperti cara berpikir orang dewasa. Kemampuan penerapan logika dalam beberapa pengetahuan, seperti matematika, sains, atau membaca berkembang dalam waktu yang sama. Tetapi, Piaget mengingatkan bahwa kemampuan tersebut dibatasi oleh pengalaman mereka yang masih minim. Oleh karenanya anak usia SD sangat memerlukan bantuan guru untuk memahami konsep-konsep yang dimiliki anak menjadi utuh.
LKS bagi Anak SD
Dalam kasus PR di atas, penulis memandang bahwa penggunaan LKS sebagai media pembelajaran pada usia SD sangat berbahaya bagi perkembangan berpikir anak. Mengapa? Pertama, LKS hanya melatih siswa menjawab soal; ia tidak akan efektif tanpa adanya pemahaman konsep materi secara benar. Pemaparan konsep kita dapatkan dari buku teks. Untuk itu sudah sangat tepat bila pemerintah mengatur standar mutu buku teks lewat Pusat Perbukuan Depdiknas. Hal ini berarti buku yang telah lolos dari lembaga tersebut sudah layak digunakan di sekolah. Apalagi dengan adanya program buku elektonik dari pemerintah, saat ini sangatlah mudah untuk mendapatkan buku teks bermutu. Tugas guru adalah membantu siswa memahami konsep dalam buku-buku tersebut secara menyeluruh sebagaimana Teori Piaget di atas. Untuk mengecek pemahaman dan kemampuan siswa guru dapat memberi latihan atau PR berdasarkan apa yang telah dipelajari. Pemakaian LKS buatan pihak lain bisa menimbulkan ketidak sesuaian (mis-match) antara yang diterangkan dan yang dilatihkan. Hal ini sangat mungkin, karena ibarat makanan, bahan makanan yang sama bisa jadi lain hasilnya bila dimasak oleh koki yang berbeda. Maka paling ideal, LKS yang baik adalah buatan guru itu sendiri karena dia lah yang semestinya tahu persis akan kebutuhan siswanya.
Kedua, hal yang paling penulis khawatirkan adalah penggunaan LKS sebagai pengganti buku ajar. Dengan beberapa pertimbangan pragmatis berupa: praktis, tak repot, harga yang murah, bahkan adanya diskon yang cukup menggiurkan ,dll. ada beberapa guru yang lebih mengutamakan penggunaan LKS dalam pembelajaran di kelas ketimbang pemakaian buku teks. Nampaknya belum ada penelitian tentang dominasi LKS menggeser keberadaan buku teks atau buku ajar. Namun sangat masuk akal untuk mempertanyakan apa yang sesungguhnya terjadi di dalam kelas atas penggunaan LKS dan buku ajar karena sudah menjadi semacam ‘ritual’ bahwa setiap pergantian semester ada pembagian (baca: penjualan) buku LKS oleh pihak guru dan sekolah . Memang dari pengamatan penulis terhadap beberapa LKS terbitan swasta pada umumnya sudah mencakup rangkuman materi, contoh-contoh penerapan konsep, dan latihan. Akan tetapi karena LKS memang dirancang sebagai latihan, maka penggunaan LKS sebahai bahan pembelajaran di kelas sama sekali tidak benar.
Pembelajaran pada jenjang sekolah dasar (SD) sangat menentukan keberhasilan di jenjang berikutnya. Pembentukan konsep yang tak mapan pada usia ini akan menjadi sandungan besar pada perkembangan masa berikutnya. Tentu kita tak ingin anak-anak kita mahir menjawab soal pilihan ganda, karena sudah dilatih lewat LKS namun gagal menjelaskan dan mengaplikasikan konsep dalam kondisi kehidupan yang nyata. Kalau itu terjadi anak akan sangat bergantung pada latihan-latihan soal tanpa pernah mampu berpikir untuk berusaha membuat soal sendiri lalu memecahkannya sendiri atau bersama temannya. Padahal belajar yang berhasil ditandai oleh kemampuan pembelajar untuk mau belajar mandiri tanpa arahan dan paksaan orang lain.
Alih-alih menjelaskan konsep, beberapa LKS justru hanya mencantumkan rumus-rumus dalam pelajaran matematika, misalnya. Hal ini karena yang menjadi pertimbangan penerbit adalah nilai ekonomisnya alias keuntungan semata; semakin tebal LKS , semakin mahal dan kurang prospektif pemasarannya. Oleh karenanya buku LKS cenderung tipis dan miskin ilustrasi tetapi pada sampul depannya terpampang tulisan besar-besar, SESUAI DENGAN KTSP. Biasanya LKS buatan penerbit hanya dipakai para guru sebagai bahan latihan di rumah alias PR, dengan catatan mereka yang memakainya biasanya berdalih demi kepraktisan karena tak cukup waktu untuk menyiapkan tugas bikinan sendiri (baca: karena malas) dan kalau bisa, kata para guru itu pada sales buku LKS, tolong sekalian disertakan Promes (program semester) dan RPP (rencana program pengajaran). Ah! Ada-ada saja!
Ketiga, pertimbangan mutu soal dalam buku LKS. Dalam kasus PR di atas, sang ayah mencoba mengamati soal-soal yang ada dalam LKS tersebut. Ternyata dari bagian A hingga D soal-soalnya cenderung monoton, artinya soal-soal yang sudah ditanyakan pada bagian A bisa jadi muncul lagi di B, atau D dengan kalimat yang berbeda. Tentu saja hal ini akan membosankan bagi anak yang telah memahami konsep. Nampaknya sang penulis LKS kekurangan bahan soal, namun dikejar target harus memenuhi sekian soal agar LKS jadi sekian halaman sesuai keinginan penerbit. Oleh karenanya mutu soal kurang menjadi pertimbangan penulis LKS. Berpijak dari pengalaman di atas sudah selayaknya kita mempertanyakan mutu soal yang ada dalam LKS SD. Apakah soal-soal dalam LKS tidak bermutu? Untuk menjawab secara obyektif diperlukan sejumlah penelitian, namun secara kasat mata seorang guru yang kompeten akan mampu menilai kadar mutu soal-soal yang ada dalam LKS sehingga ia bisa memutuskan apakah akan menggunakan sebuah LKS atau tidak. Memang untuk LKS SMP dan SMA , kebanyakan soal – soalnya mirip atau sekedar mencuplik (copy paste) dari soal-soal UN yang tentu sudah melalui penyaringan ketat dari pemerintah. Namun kita patut mempertanyakan keaslian (orisinalitas) ide pembuat LKS tersebut, kalau sekedar copy paste semua orang juga bisa, kan? Terus dimana fungsi pengayaan soal dari sebuah LKS?
Alangkah baiknya buku LKS buatan penerbit juga bermula dari pembuatan kisi-kisi soal yang benar lalu dilakukan testing dan analisa butir soal secara benar. Nah, berdasarkan analisa tersebut akan diketahui apakah rangkaian soal-soal tersebut memiliki ketepatan (validity) dan keajegan (realibility) yang cukup. Lewat analisa tersebut Juga akan diketahui tingkat kesukaran (TK) dan daya pembeda (DP) masing-masing soal sehingga memudahkan pembuat soal untuk menentukan butir soal mana yang bisa dipakai dan mana yang harus disingkirkan. Memang untuk menuju kualitas harus menempuh jalan yang berliku, namun dengan garansi kualitas itulah seharusnya para pembuat buku LKS bersaing menawarkan dagangannya.
LKS SD Bisa Mematikan Potensi Anak
Penulis tidak apriori akan keberadaan buku LKS, terutama bila memang memenuhi kualitas standar. Namun penggunaan yang tidak tepat terhadap LKS akan mematikan kemampuan anak sebagai pembelajar aktif dan menjadikan LKS sebagai beban yang menyiksa anak, maka sekali lagi penulis menegaskan bahwa pada usia SD lebih membutuhkan pemahaman konsep secara utuh, dan untuk mengecek kemampuan siswa, guru tidak perlu menggunakan LKS buatan penerbit. Lebih baik para guru memaksimalkan penggunaan buku ajar untuk pemahaman siswanya. Buatlah LKS sendiri yang lebih membumi dan sesuai dengan kebutuhan anak didiknya. Tentu untuk jumlah soal guru yang paling mampu memperkirakan ketuntasan belajar dari masing-masing bab. Tidak harus banyak yang penting tuntas pemahaman materinya. Semoga dengan pencangan sertifikasi guru akan menambah semangat para guru untuk menunjukkan profesionalisme mereka. Selamat mencoba!
Tentang penulis:
Muh.Muslih, peneliti pada MAARIF CENTER, Alumnus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Alamat : Kompleks kampus SMP Terpadu Ma’arif Muntilan, Bintaro, Gunungpring, Muntilan, 56415
Email : muslih_upi@yahoo.com atau afiborobudur_mgl@yahoo.co.id
Langganan:
Postingan (Atom)