Oleh: Muh. Muslih
Adalah suatu kebetulan, pada tahun 2003 pesawat TV kami rusak dan tak ada niat kami untuk membetulkannya. Saat itu sulung kami baru usia 3 tahun sedang adiknya 1 tahun. Sebenarnya dari berbagai bacaan sudah lama kami mengetahui bahaya dan dampak TV bagi perkembangan anak, namun baru pada momentum kerusakan TV itulah kami sungguh-sungguh nawaitu untuk puasa dari tontonan TV.
Kesepian yang mendera
Masalah yang mula-mula muncul dari keputusan itu adalah kesepian, ada sesuatu yang hilang dari keseharian kami, utamanya tayangan informasi dan berita yang menjadi kesukaan saya. Istriku juga merasakan hal yang sama, ia kehilangan acara favoritnya “Kuis siapa berani?” dan telenovela “Maria Mercedes” saat itu. Dan yang paling sulit menerima kenyataan adalah Si Sulung yang sudah bisa memprotes hilangnya acara kartun dari kehidupannya. “Pak, kapan TV nya dibetulin, Afi ingin nonton kartun,” rengeknya setiap hari. Dengan sabar kami jelaskan padanya bahwa TV nya rusak berat, mati total dan butuh uang banyak untuk membetulkannya.
Lama-lama kami terbiasa dengan pola hidup tanpa TV. Meskipun kami memiliki uang untuk memperbaiki atau membeli TV baru kami lebih memilih puasa TV dengan pertimbangan demi perkembangan pendidikan anak-anak. Kami juga terinspirasi oleh penulis buku-buku top tentang pengasuhan anak, M. Fauzil Adzim yang mengatakan bahwa sesungguhnya banyak orang tua yang menyadari dan mengetahui bahaya tayangan TV bagi anak namun mereka tak berani berkorban untuk mematikan TV nya karena telah keranjingan acara-acaranya. Penulis buku tentang Islamic parenting itu sendiri dalam kesehariannya memilih tak memiliki TV di rumahnya. Adapun alasan terkuat bagi kami untuk puasa TV adalah fakta bahwa sebagian besar tayangan TV, terutama sinetron yang menyuguhkan tontonan yang mengumbar aurat. Sampai saat ini budaya berpakaian yang layak dan sopan sulit di dapatkan di layar kaca itu. Bahkan banyak acara yang berlabel tayangan untuk anak-anak, seperti audisi bintang-bintang cilik namun isinya lebih mencerminkan eksploitasi anak dari kacamata ambisi orang dewasa. Ini dengan mudah bisa terkuak dari cara berpakaian anak waktu tampil dan pilihan lagu-lagunya yang bukan lagu anak-anak lagi.
Untuk mengatasi kesenjangan akan kebutuhan informasi dan berita selama puasa TV kami mengandalkan radio. Alhamdulillah, dengan semakin banyaknya stasiun radio yang mengkhususkan dengan menu berita seperti radio ElShinta, radio 68-H Jakarta kebutuhan tersebut dapat diatasi. Selain itu, kami juga jadi terbiasa memantau perkembangan dunia lewat siaran radio BBC London atau Suara Amerika (VOA) sambil mengerjakan rutinitas pagi, memasak dan mencuci pakaian mulai jam 05.00 hingga jam 06.00. Sedangkan sebagai kompensasi atas hobi menonton sinetron istriku berlangganan sebuah tabloid wanita. Kegemarannya bergeser menjadi pecinta resep menu masakan serta artikel tentang psikologi dan pendidikan anak. Anak-anak pun sudah tidak banyak protes atas ketiadaan film kartun. Protes mereka sekarang adalah kalau kami tak sempat membacakan buku atau mendongeng menjelang tidur. Mereka sangat mecinta buku dan majalah bergambar meskipun mereka belum dapat membaca.
Masa cinta bacaan tumbuh
Saat usia 5 tahun, Si Sulung masuk TK kelas 0 kecil. Ia memang belum bisa membaca tetapi sangat menyukai buku-buku bergambar. Kalau dia mendekati kami sambil membawa buku atau majalah itu berarti kami harus membacakan isinya. Demikian juga adiknya, ia sering membuka-buka majalah anak-anak dan kadang-kadang merobeknya. Hal itu kami biarkan karena memang sudah kami antisipasi dengan membelikan buku atau pun majalah anak-anak dari pasar loak yang harganya sangat murah. Sebuah majalah anak-anak bekas tahun 2005 hanya senilai 1000 rupiah. Itu sudah yang termahal, seringkali kami justru dapat hanya seharga 500 rupiah. Bandingkan dengan harga barunya yang senilai 7000 ribu pereksemplarnya. Pikir kami saat itu yang penting adalah fungsinya. Kami ingin memfasilitasi anak-anak dengan kegiatan membaca. Mereka pun sudah sangat senang mendapatkan majalah dan buku-buku bergambar.
Usia 7 tahun, Sulung masuk kelas 1 SD. Meski berbagai cara telah kami tempuh agar bisa lancar membaca namun ia tetap belum mampu melakukannya. Namun kami tak khawatir atas hal itu karena ia tetap memiliki semangat membuka-buka buku bergambar dan membawanya ke kamar tidur. Adapun tugas kami tetap, membacakan isi buku yang menarik hatinya dan mendongeng sebelum tidur. Perkara mendongeng adalah tugas saya. Selain bersumber dari bacaan yang kami miliki, saya sering mengarang sendiri cerita dengan muatan pokok budi pekerti. Dan anehnya, cerita rekaan sendiri itu yang paling disukai anak-anak. Dengan tokoh-tokoh rekaan saya, mereka selalu menunggu lanjutan cerita yang terpotong setiap satu nilai budi pekerti diceritakan. Nilai-nilai seperti kejujuran, keberanian, kerajinan ternyata bisa menjadi rekaan bahan cerita yang menarik asalkan kami mau bersungguh-sungguh meladeni keingintahuan anak-anak. Memang kadang-kadang saat badan lelah, jalan ceritanya menjadi tidak mulus karena serangan kantuk yang mendera sang pendongeng. Alhasil, anak-anak sering protes karena omongan saya sering melantur dan tidak nyambung dengan cerita.
Perkembangan cukup berarti terjadi pada kelas 1 semester 2, karena ketelatenan gurunya Si Sulung mulai lancar membaca sehingga semakin sering ia minta dibelikan buku-buku baru terutama dengan tema dinosaurus yang menjadi kesukaannya. Karena terbatasnya keuangan, kami daftarkan dia dan adiknya yang masih TK di perpustakaan umum di tempat kami. Hanya bermodalkan pendaftaran 1500 rupiah perorang mereka sudah bisa menikmati fasilitas pinjam buku sebanyak 2 buah perorang selama maksimal 1 minggu. Alhamdulillah, semua kesulitan ada jalan keluarnya. Sekarang Si Sulung sudah kelas 3 dan bila ditanya tentang kegemaran maka dengan mantap ia akan menjawab, “hobi saya membaca”. Terbukti baginya tiada hari tanpa membaca, baik membaca komik, buku pelajaran ataupun majalah. Adapun perkembangan belajar adiknya lebih bagus lagi dibandingkan Si Sulung.
Memang minat baca perlu proses
Adiknya seorang perempuan yang saat umur 3,5 tahun sudah ikut kakaknya belajar di TK. Mengingat usia sebenarnya kami hanya mau titip dulu di TK sebagai anak bawang tetapi ia protes harus berseragam persis teman-temannya. Tak ingin mengecewakan kemauannya, maka kami daftarkannya sebagai seorang murid resmi walaupun terbersit sedikit cemas di hati kami, apakah tidak terlalu kecil mengingat usianya.
Akan tetapi kecemasan itu sedikit demi sedikit sirna setelah kami melihat perkembangan belajarnya. Dibandingkan dengan kakaknya, si adik ini justru lebih pesat kemampuan membacanya. Walaupun di TK belum diajarkan membaca, namun berbekal kesukaan melihat-lihat buku dan mendengar cerita orang tuanya dia sudah lancar membaca pada usia 5 tahun. Dan pada usia 5,5 tahun ia tak mau lagi duduk di bangku TK yang sudah dijalaninya salama 2 tahun sehingga kami daftarkan ia di SD terpadu, sebuah sekolah favorit di kota kami. Setelah mengikuti serangkaian seleksi dan wawancara akhirnya ia diterima di SD tersebut meskipun kepala sekolah selalu mengingatkan kami akan beberapa kemungkinan ia tak bisa mengikuti pelajaran mengingat usianya yang masih sangat muda. Terus terang kami pun sempat khawatir namun melihat semangat belajar si anak kami tak tega bila harus menghentikan langkahnya dengan memaksanya mengulang di bangku TK, maka dengan ucapan bismillah kami mantap nawaitu menyekolahkan dia di SD itu.
Sekarang di SD itu sang adik berada di bangku kelas 2 dengan predikat rangking ke 2 saat kenaikan kelas sedang kakaknya rangking 20. Dan yang mengagetkan kami, saat dia minta ijin untuk masuk pesantren di dekat SD tersebut sambil bersekolah. Tentu saja itu sama sekali bukan skenario kami dalam mendidik anak. Namun kami yakin itu tentu petunjuk Alloh maka dengan rasa penuh haru bercampur bangga kami hantarkan si kecil ke pondok dengan doa,” Ya Alloh, kami titipkan anak ini dalam pemeliharaan dan pengawasanMU”. Sambil belajar di pesantren dia selalu minta dikirimi buku=buku bacaan. Kepada anak-anak itu kami tak pernah menargetkan mereka harus rangking atas, yang kami lakukan adalah selalu menjaga semangat membaca. Oleh karenanya meskipun sang kakak berada di rangking 20 dari 31 anak, kami tak pernah khawatir asal ia masih punya semangat membaca yang tinggi.
Mungkin kalau kami tidak puasa TV ceritanya akan lain. Bisa jadi anak-anak akan sulit memiliki kebiasaan membaca yang menjadi fondasi bagi semua kebutuhan belajar anak. Saat ini, bila sebagian besar orang tua kesulitan menumbuhkan minat baca anaknya, keadaan kami justru sebaliknya. Kami kesulitan menghentikan kegiatan membaca anak-anak yang hampir tak mengenal waktu dan tempat. Maka dengan penuh kesabaran kami senantiasa mengingatkan mereka untuk selalu mengatur waktunya dengan efektif.
Tentu saja pengalaman kami ini sangat subyektif dan belum tentu dapat diterapkan pada orang lain, namun pada umumnya orang tua tentunya sudah mengetahui dampak TV bagi perkembangan jiwa anak-anaknya. Yang jelas pengalaman puasa TV selama 6 tahun bagi kami memiliki arti yang sangat besar dalam membentuk minat baca dan semangat belajar anak-anak. Dengan tidak menonton TV, anak-anak terbiasa tidur sesuai jadwal sehingga saat bangun pagi dalam keadaan segar. Selain itu, waktu belajar menjadi efektif tanpa terpecah konsentrasi karena ingin menonton TV. Meskipun kami sudah mempunyai TV baru sejak tahun 2007, namun alat itu hanya berfungsi untuk memutar film-film VCD keajaiban binatang Harun Yahya, atau film anak-anak yang memutarnya tidak setiap hari. Biasanya dua atau tiga kali diputarkan mereka sudah bosan. Untuk itu kami juga berlangganan koran untuk mengimbangi kebutuhan informasi.
Sampai kapan kami akan berpuasa TV? Kami berpendapat sampai anak-anak sudah bisa memilih acara-acara TV yang layak ditonton. Mungkin saat anak-anak telah usia SMP nanti. Untuk itu diperlukan usaha yang sungguh-sungguh agar mereka memiliki fondasi agama dan semangat belajar yang cukup matang dulu. Semoga kita menjadi orang tua yang benar-benar menjadi teladan yang baik dalam menyiapkan anak-anak menghadapi masa depan mereka. Amin.
No. HP : 081804030020